Selamat Datang di Website Puskesmas Arsel
 
 
 
Web Link :

Dinkes Kobar

RSUD S. Imanudin
Pangkalan Bun

Puskesmas

Pkm Madurejo

 

Pkm Pangkut

 

Pkm Rindu

Pkm Kolam

Pkm Palingkau

Pkm Mendawai

Pkm Kumai

Pkm Karang Mulya

Pkm P. Lada

Pkm Sungai Rangit

Pkm K.B. Atas

Pkm Semanggang

Pkm T. Bogam

Pkm Sambi

Pkm Runtu


 

 

 

 

 
 
 
 

KONSULTASI KESEHATAN ONLINE
BERSAMA PUSKESMAS ARSEL

Nana: Saya ingin tanya saya sering mengalami insomia, padahal saya anak sekolahan SMA kls 12, dan kadang suka gelisah. Itu kenapa ya Pak Dok atau bu Dok ? Trims

Jawaban dr. BERNARD F.R. GEA (Tim PKPR Puskesmas Arut Selatan)
 

Terimakasih atas pertanyaannya. Untuk Nana, di dalam pertanyaannya, masih ada beberapa hal yang belum disebutkan, seperti data tentang:

  1. Sudah berapa lama keluhan sulit tidurnya berlangsung.
  2. Apakah sedang memiliki masalah emosional.
  3. Adakah beban pekerjaan atau pun tugas-tugas  yang menjadi beban pikiran
  4. Keluhan/penyakit lain yang menyertai, atau riwayat penyakit yang pernah diderita, misalnya: menderita tuberkulosis yang menahun, dirawat di RS karena penyakit tertentu, dsb.
  5. Apakah kondisi ini menyebabkan  sulit atau terganggu di dalam beraktivitas.
  6. Upaya apa saja yang sudah Anda lakukan.
  7. Bila sudah pernah ke dokter, pernah diberi obat apa (saja).

Namun demikian menurut saya, kemungkinan Anda menderita gangguan tidur non-organik yang dinamakan dyssomnia, yaitu: kondisi psikogenik primer dimana gangguan utamanya adalah jumlah, kualitas, atau waktu tidur yang disebabkan oleh hal-hal emosional. Contoh dyssomnia antara lain insomnia, hipersomnia, dan gangguan jadwal tidur-jaga. Nah, kemungkinan anda mengalamai insomnia non organik. Berikut ini saya uraikan sedikit tentang insomnia non-organik. Untuk lebih memastikan diagnosis insomnia non-organik, ada beberapa pedoman sederhana berdasarkan PPDGJ III yang bisa dipakai:

  1. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur yang buruk.
  2. Gangguan terjadi minimal 3 kali dalam seminggu selama minimal satu bulan.
  3. Peduli yang berlebihan terhadap akibat “tidak bisa tidur” ini pada malam hari dan sepanjang siang hari.
  4. Adanya gejala penyerta (depresi, cemas, atau obsesi) tidak menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan. Semua penyerta ini memerlukan terapi tersendiri.
  5. Kuantitas (lamanya) tidur tidak digunakan untuk menentukan adanya gangguan, karena masing-masing individu berbeda.

Silakan mendeteksi/menilai diri Anda sendiri berdasarkan pedoman di atas. Bila mayoritas jawabannya adalah iya, maka besar kemungkinan Anda menderita insomnia non-organik. Bila mayoritas jawabannya tidak, maka segeralah berkonsultasi ke dokter/psikiater terdekat.
Bagaimana cara mengatasinya? Solusinya adalah disiplin melakukan higiene tidur, seperti:

  1. Membiasakan diri untuk kencing sebelum tidur, tidur dan bangun teratur pada jam yang sama setiap hari.
  2. Bila terbiasa memungkinkan tidur siang; biasakanlah di waktu yang sama, sesudah makan siang merupakan waktu terbaik.
  3. Hindari tidur siang lebih dari 45 menit.
  4. Hindari berolahraga sore-malam hari atau menjelang tidur.
  5. Hindari meletakkan peralatan elektronika (TV, radio) di kamar tidur.

Demikian yang bisa saya berikan, semoga bermanfaat dalam mengatasi gangguan tidurnya.

KEGIATAN INOVASI