Informasi Kesehatan
 
 
 

 

 

 

 
 
 
 

PENYAKIT TUBERKULOSIS

Tuberkulosis adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Indonesia tercatat sebagai penyumbang kasus terbesar nomor empat di dunia setelah India, China dan Afrika Selatan. TB juga penyebabnya kematian tertinggi kedua di Indonesia setelah stroke. Diperkirakan ada 430 ribu kasus Tb baru, dan 168 orang diantaranya meninggal setiap hari. Kondisi ini sangat kritis bila tidak ditangani dengan strategis yang tepat. Tb juga merupakan salah satu indikator keberhasilan MDGs yang harus dicapai Indonesia, yaitu menurunnya angka kesakitan dan kematian menjadi setengahnya di tahun 2015. Di dalam perkembangan dan pelaksanaan program pengendalian Tb, Indonesia telah berhasil menurunkan angka insiden, prevalens dan angka kematian.

Banyak tantangan dalam penanganan TB saat ini, antara lain meningkatnya kasus koinfeksi TB HIV; kasus TB Multi Drug Resistance (MDR), dan belum optimalnya manajemen dan kesinambungan pembiayaan program pengendalian TB . Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya jumlah penderita penyakit-penyakit degeneratif seperti gangguan imunitas, masalah diabetes, meningkatnya angka perokok serta tingkat kemiskinan yang masih tinggi di Indonesia. itu semua sangat berpengaruh terhadap peningkatan angka kesakitan TB di Indonesia.

Keterbatasan sumber daya yang di miliki sektor pemerintah dan besarnya tantangan yang ditimbulkan akibat penyakit TB, menjadikan pengendalian TB belum dapat berjalan optimal. Demi keberlanjutan program, maka dibutuhkan kemitraan antara berbagai sektor dengan NTP ( National Tuberkulosis Indonesia Program). Kemitraan yang tentunya harus berdasar visi untuk mewujudkan Indonesia bebas TB pada tahun2050.

Sekilas menilik sejarah, program pengendalian TB di Indonesia dimulai sebelum kemerdekaan RI. Pada saat itu program TB masih dilakukan pihak swasta dan ditujukan hanya bagi kelompok masyarakat tertentu, sehingga pencanangan program pengendalian TB secara Nasional pada tahun 1969 yang ditegaskan kembali tahun 1992 dimana Indonesia melakukan ujicoba strategi Directly Observed Treatment, Short-course (DOT) untuk pertama kalinya. Setelah dilakukan uji coba, pada tahun 1995 strategi DOTS resmi menjadi strategi penanggulangan TB di Indonesia, sebagaimana diekomendasikan WHO. Sejak saat itu penanggulangan TB DOTS diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. Tahun 2010, dalam rangka mendukung strategi nasional program pengendalian TB, maka program diarahkan kepada universal access untuk cakupan dan kualitas pelayanan DOTS yang lebih luas.

sumber: MEDIAKOM Kementrian Kesehatan RI edisi 36 1 Juni 2012

Kembali